IVlC40XzjySgzAuEaAFbFpya_9jj0Vs51nWy0u5gYyfxdu5CrnvmnaMah7xrppirEQkU4Q=w1318-h491UMKM menghadapi MEA 2015 saat ini menjadi lagu lama yang selalu baru dinyanyikan kembali oleh penyanyi baru. Banyak sudah penelitian dan dana yang dikeluarkan untuk menggali tantangan menjadi potensi, ancaman jadi peluang dan menggali daya saing UMKM harus dilihat kasus per perkara dan penting untuk di wilayah KTI.

Tema diskusi dan tulisan tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang disingkat MEA, semakin gencar diberitakan belakangan ini. Baik diforum KTT ASEAN sampai rapat dinas kabupaten/kota, bahkan rapat orang tua murid di sekolah. Ini bisa dimaklumi, sebab MEA akan memberikan dampak yang luar biasa bagi perdagangan regional sesama anggota Asean, serta perdagangan dunia pada umumnya yang diharapkan dapat memberikan keadilan bagi semua negara di dunia, ketika MEA mulai diberlakukan pada tahun 2015.

Kesiapan dan Kendala
Pertanyaannya adalah apakah kita sudah siap menghadapi MEA? Jawabannya kita belum siap tapi sudah menuju kesiapan, hanya ada kendala sedikit, ini kedengaran merdu, namun karena ukuran siap atau tidak akan dibuktikan pada saat pelaksanaan. Sekarang yang penting bukan jawabannya tapi pertanyaannya, yaitu “apa saja yang perlu di tindak lanjut untuk UMKM di KTI menghadapi MEA 2015?

Pilar pertama cetak biru MEA dinyatakan bahwa ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan aliran modal yang lebih bebas.siapkah Indonesia dengan aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan modal http://dimastidano.wordpress.com. Namun sebelumnya kita perlu meluruskan, bahwa masalah UMKM yang selalu dikatakan masalah teknologi, masalah SDM, masalah pasar, masalah modal dan investasi. Semua itu sangatlah keliru diidentifikasi masalah, karena itulah karakteristik UMKM yang tidak terjadi pada usaha besar, itu sesuai dengan porsi dan peruntukannya. Ini penting kita sepakati sehingga setiap seminar dan workshop tidak membahas ini menjadi masalah tapi dibahas sebagai peluru butuh pistol dan sasaran tembaknya. Seperti membahas metode dan pendekatannya supaya berdaya saing.

Tujuan survive pada MEA 2015 adalah daya saing. Kalau intinya adalah kesejahteraan bersama salah satu pendekatannya adalah UMKM, maka walaupun masih mentah saya mencoba menyajikan kesiapan dan kendala UMKM di wilayah KTI menghadapi MEA 2015 dalam sebuah identifikasi. Seperti fungsinya untuk membantu tubuh menjadi lebih sehat dan kuat, maka dengan ide saya menyingkat “VITAMIN” sebagai pencerahan untuk UMKM, sehingga dapat kuat dan berkelanjutan untuk berdaya saing.

Visi dan Misi Pemerintah Daerah
Sejauh ini bagaimana kesiapan KTI menghadapi MEA? Bagaimana pun visi dan misi pimpinan daerah untuk UMKM penting terlebih lagi dalam upaya untuk menyongsong diberlakukannya MEA pada tahun 2015 pada tahun depan. Jika kita tidak siap, maka Indonesia terutama ekonomi wiulayah KTI akan tertinggal dibandingkan wilayah lainnya. Karenanya, semua sektor yang berskala UMKM harus diberdayakan secara optimal. Sehingga setiap sektor bisa memberikan kontribusi bagi pertumuhan ekonomi daerah.

Infrastruktur dan logistik
Seperti kita ketahui bersama bahwa wilayah KTI kalah bersaing dengan KBI, sehingga sulit menghilangkan phobia pelaku UMKM dapat bersaing dengan harga dan kualitas yang mendekati produk asing. Kualitas dapat kita peroleh dari bahan baku, ketrampilan dan teknologi. Harga didapatkan daya saingnya melalui efisiensi proses produksi yang tanpa pemborosan. Kendalanya masih belum pahamnya semua elemen yang terkait terhadap logistik daerah, walaupun di beberapa daerah sudah dimediasi oleh pemerintah daerah dan KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu). Kedepannya perlu integrasi penelitian tentang UMKM, KEK, KAPET, KCT dan MP3EI. Sehingga terwujud produk UMKM dengan harga murah dan berkualitas internasional

Teknologi dan informasi
Kesiapannya saat ini di UMKM di KTI telah menggunakan dan bergantung pada jasa yang menggunakan teknologi baik software maupun hardwardnya, dan menggunakan media sosial untuk menginformasikan bisnisnya. Kendalanya karena kesiapan jaringan dan listrik yang belum menunjang peralatan sehingga ebusiness terkesan menjadi boros. Kedepannya penting untuk bantuan dari pemerintah terhadap elemen penunjang seperti listrik dan teknologi yang cepat dipahami oleh UMKM. Sehingga nilai dan kecepatan produk dapat berdaya saing

Aksesibilitas pada lembaga pembiayaan
Kesiapan telah banyak bantuan yang diberikan untuk mempermudah UMKM di KTI hanya saja kemampuan untuk kredit masih terbatas pada masalah klasik untuk kriteria pembiayaan, maka diperlukan kembali kerjasama untuk membuat kesepakatan yang lebih memihak bagi UMKM. Sehingga ketepatan dan kecepatan keberlangsungan usaha terjamin menuju daya saing.

Modal SDM dan SDA
Kesiapan yang harus kita perjuangkan adalah pada pasar bisnis jasa: sertifikasi tenaga kerja karena tenaga kerja akan menjadi indicator persaingan. UMKM di KTi dapat keahliannya namun belum memiliki sertifikasi. Selanjutnya apa kesiapan SDA dari daya yang terkumpul dengan keunikan, kedalaman dan luasnya yang berlimpah? Selanjutnya kesiapan keramahan penduduk, letak geografis yang unik di KTI karena dilewati ALKI (alur laut kepulauan Indonesia) dan budaya. Diperlukan komitmen dari pemerintah provinsi maupun kota yang telah siap mengantisipasi UMKM untuk berlatih dan mengelola SDA untuk mampu bertahan. Sehingga efisiensi dan efektifitas dapat meningkatkan produk dan produktivitasUMKM yang berdaya saing.

Inovasi dan kreatifitas
UMKM di KTI memang telah siap dengan inovasi dan kreatifitas hanya saja perlu secara berkelanjutan menghargai hasil karyanya walaupun tidak dihargai karena tidak bermerek. Dengan komitmen terhadap penguatan UMKM lewat strategy klaster industry dan value chain. Sehingga meningkatkan pelayanan dan kapasitas daya saing UMKM

Norma atau peraturan
Banyak kemacetan ketika kita mengimplementasikan peraturan yang baru atau revisi peraturan, peraturan yang lama saja belum disosialisasikan sudah tiba peraturan baru, ini terkesan pemaksaan, belum lagi tumpang tindih peraturan. Kedepannya perlu manajer yang baik untuk mengintegrasikan dan mengharmonisasikan semua peraturan antar SKPD dan daerah di KTI sehingga terwujud supremasi hukum dan tidak membingungkan dan menghambat pertumbuhan dari UMKM yang berdaya saing

Bagaimanapun kehadiaran MEA merupakan fakta perjanjian perdagangan bebas kawasan Asean yang harus kita hadapi pada tahun 2015. Oleh sebab itu, tidak ada cara lain selain semua pihak harus menyatukan sikap untuk menghadapinya sesuai dengan bidang yang digelutinya. Bagi para UMKM, MEA sebenarnya bukan momok yang mesti ditakuti, tapi ini adalah merupakan peluang bisnis yang sangat menjanjikan di masa depan. Sebab, dengan diberlakukannya MEA maka lalu lintas perdagangan barang dan jasa termasuk manusia antar negara Asean semakin terbuka dan berjalan dengan bebas.

Jiki selama ini produk UMKM hanya bergerak sekitar antar pulau alias bergerak di pasar lokal, maka dengan MEA produk UMKM bisa bebas dieskpor ke mana saja, tentu dengan syarat produk mereka sesuai dengan kualitas ekspor. Begitu juga dengan sumber daya manusia yang ada dilayah KTI, dengan MEA mereka terpacu untuk mengembangkan diri agar bisa bersaing dengan tenaga kerja antar negara Asean, minimal mereka terpicu untuk meningkatkan berbahasa inggris, salah satu cara adalah dengan upaya belajar bahasa inggris lebih aktif lagi. Sebab, bahasa inggris nantinya akan menjadi bahasa sehari-hari dalam melakukan transaksi bisnis, di mana saja mereka berada.

 

Dr. Magdalena Wullur, SE. ME
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Samratulangi, Manado

Peluang Usaha Kretif dan Produktif di Era MEA 2015
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *